DINAS KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA
Kabupaten Way Kanan



bupati raden adipati surya ajak kepala sekolah teladani sifat ki hajar dewantara

Diposting oleh , Tgl 2018-02-07 & wkt 13:41 & dibaca Sebanyak 136 Kali

Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi disegala bidang kehidupan masyarakat, turut membawa perubahan paradigma dalam bidang pendidikan. Perubahan paradigma pendidikan diera sekarang mengharuskan adanya perubahan fungsi dan peran kepala sekolah. Kepala sekolah tidak lagi hanya melakukan kebijakan-kebijakan yang bersifat sentralistik, tetapi juga bergerak kearah desentralistik dan manajemen partisipatif. Kepala sekolah tidak lagi bekerja secara individual yang cerdas tetapi juga harus bekerja secara team work yang cerdas.

Hal tersebut dikatakan Bupati H.Raden Adipati Surya,SH.,M.M pada acara Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) di Bendungan Way Umpu Kampung Rantau Temiang Kecamatan Banjit, Rabu (07/02/2018).

  

Dihadiri oleh Staf Ahli Bupati Bidang Pemerintahan, Hukum dan Politik, Drs.Achmad Gantha,L’Ng,MM., Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Drs.Abu Kori., Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika, H.Bakhril,SH.,M.M., Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kampung, Selan, S.Sos.,M.M., Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Drs.Musadi Muharam,M.M., Camat Banjit, Taufik Hidayanto,S.STP.,M.Si., Ketua MKKS Way Kanan, dan Kepala Sekolah SMP se-Kabupaten Way Kanan.

“Pergeseran fungsi dan peran kepala sekolah dalam mengelola sekolah mengharuskan adanya tuntutan kepala sekolah yang aktif, kreatif, dan inovatif. Dengan kata lain, kepala sekolah dituntut harus proaktif dan mampu melakukan perubahan-perubahan mampu meningkatkan mutu pendidikan. Tuntutan ini merupakan implikasi dari penerapan konsep Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)”, Ujar Raden Adipati Surya.

  

Bupati yang akrab disapa Adipati itu  juga mengatakan bahwa sebagai wadah asosiasi atau perkumpulan kepala sekolah yang berfungsi sebagai sarana untuk saling berkomunikasi, belajar, bertukar pikiran dan pengalaman antar kepala sekolah, dalam rangka peningkatan kinerja kepala sekolah sebagai ujung tombak terjadinya perubahan di sekolah, MKKS juga merupakan organisasi profesi keguruan yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen dalam pasal 41.

“Bahwa guru membentuk organisasi profesi yang bersifat independent dan berfungsi untuk memajukan profesi, meningkatkan kompetensi, karier, wawasan kependidikan, perlindungan profesi, kesejahteraan dan pengabdian kepada masyarakat”, Lanjutnya.

  

Selain memiliki tanggung jawab memprioritaskan dan memajukan profesi, meningkatkan kompetensi, karier, wawasan kependidikan, perlindungan profesi, kesejahteraan dan pengabdian kepada masyarakat tetapi juga perkembangan siswa sebagai pribadi yang  unik secara utuh. 

“Oleh karena setiap satuan pendidikan harus memberikan layanan yang dapat memfasilitasi perkembangan pribadi siswa  secara optimal berupa pengajaran kelas, pemahaman mengenai hal-hal yang berkaitan dengan profesi keguruan juga harus di prioritaskan. Hal ini merupakan bagian dari kompetensi yang juga harus dikuasai oleh siswa”, Ujar Raden Adipati Surya

  

Bupati 39 Tahun itu melanjutkan bahwa tolak ukur keberhasilan Kepala Sekolah dan guru utamanya tercermin pada perubahan positif yang dialami oleh murid-muridnya, dilihat dari beberapa indikator, baik itu dilihat dari pemahaman murid terhadap materi pelajaran, rasa antusias murid dalam mengikuti proses pembelajaran, dan yang paling penting adalah sejauh mana murid menikmati proses belajar yang dijalaninya tersebut.

“Saya juga mengingatkan kepada para Kepala Sekolah, agar bertindak sesuai dengan aturan yang berlaku, ojo sok dumeh atau bahkan sok kuoso. Namun tauladanilah Ki Hajar Dewantara yang merupakan tokoh pendidikan, dengan semboyannya ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. Ing ngarsa sung tulada, yang mengandung arti  di depan, bagi seorang pendidik atau bisa diartikan juga seorang pemimpin, harus bisa memberi tauladan atau contoh tindakan yang baik. Ing madya mangun karsa, artinya di tengah atau diantara murid atau yang dipimpin, guru atau pemimpin harus bisa menciptakan prakarsa dan ide. Sedangkan tut wuri handayani adalah dari belakang, seorang guru atau pemimpin harus bisa memberikan dorongan dan arahan kepada murid atau yang dipimpinnya”, tutup Bupati lulusan Strata Dua Magister Management Universitas Bandar Lampung itu.

 




2TViu


Halaman :

<-- Kembali